Banjir kembali melanda Kampung Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, setelah tanggul sungai dilaporkan mengalami kerusakan parah. Kejadian ini menyebabkan air sungai meluap dan merendam kawasan pemukiman penduduk setempat, sehingga menambah derita warga yang sebelumnya sudah mengalami bencana serupa.
Tokoh pemuda Kampung Bendahara Hilir, M Daud, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap situasi yang semakin memburuk. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi akibat tanggul yang jebol dan belum diperbaiki, menyebabkan banjir yang melanda komunitas mereka.
Dampak Banjir Terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Banji yang terjadi di Kampung Raja pada Kamis sekitar pukul 18.00 WIB berdampak luas terhadap masyarakat. Saat air mulai meluap, banyak warga yang masih mencari perlindungan dan terpaksa mengungsi kembali ke tempat penampungan yang sementara.
Kondisi tanah dan lingkungan sekitar pun semakin memburuk, mengingat banyak area yang sudah porak-poranda akibat banjir bandang sebelumnya. Keluarga-keluarga di kawasan tersebut terasa terbebani oleh bencana yang berulang ini, yang juga mengancam kesehatan serta keselamatan mereka.
Daud menyebutkan bahwa tanggul yang jebol berada pada jalan penghubung antara Kecamatan Bendahara dan Seruway. Hal ini semakin memperparah situasi transportasi, menambah kesulitan bagi warga untuk mengakses bantuan dan pengamanan.
Penyebab dan Potensi Banjir Susulan di Aceh Tamiang
M Daud berpendapat bahwa banjir susulan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kiriman dari wilayah hulu sungai akibat curah hujan yang sangat tinggi di pegunungan. Situasi ini membuat masyarakat merasa cemas mengingat prediksi cuaca yang menunjukkan potensi hujan lebat akan kembali terjadi.
Kerusakan yang melanda sejumlah titik tanggul di pesisir Kecamatan Bendahara, terutama di Kampung Raja, Lubuk Batil, dan Marlempang, bersumber dari banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025. Banyak dari tanggul ini belum sempat diperbaiki, sehingga membuat risiko bencana semakin tinggi.
“Jika hujan terus berlanjut, kami khawatir kampung-kampung di hilir akan kembali terendam,” kata M Daud. Rasa khawatir ini meliputi keselamatan keluarga dan harta benda mereka.
Perhatian dan Tindakan dari Pemerintah Lokal
Melihat situasi yang mendesak, masyarakat Kampung Raja dan sekitarnya berharap perhatian lebih dari pemerintah setempat. Mereka mendesak agar perbaikan tanggul segera dilakukan untuk mencegah banjir yang lebih besar di masa depan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan solusi yang efektif untuk menanggulangi banjir yang sudah berulang kali menghantui mereka. Keterlibatan masyarakat dalam upaya penanggulangan juga dianggap sangat penting untuk memperkuat ketahanan terhadap bencana.
Dengan memperbaiki infrastruktur yang rusak, mereka berharap bisa mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam ini. Will dan partisipasi warga akan sangat menentukan keberhasilan program yang diimplementasikan.
Berita Terkait dari Daerah Lain di Aceh
Di sisi lain, Desa Selamat di Kecamatan Tenggulun juga mengalami banjir pada Rabu malam. Sungai yang meluap dari objek wisata pemandian Gunung Pandan menyebabkan air masuk ke pemukiman warga. Namun, dampak di desa ini lebih tidak parah dibandingkan yang dialami Kampung Raja.
Menurut Datok Penghulu Kampung Selamat, Suherman, banjir ini tidak berlangsung lama dan surut dalam waktu singkat. Meskipun begitu, pengalaman ini kembali mengingatkan warga akan pentingnya waspada terhadap cuaca ekstrem.
Kendati tidak ada korban jiwa atau pengungsian yang signifikan, kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai risiko yang harus dihadapi ketika curah hujan tinggi. Langkah-langkah pencegahan diharapkan dapat dilakukan agar masyarakat tidak kembali merasakan dampak yang serupa di masa mendatang.














