Polda NTT baru-baru ini menyelesaikan proses identifikasi jenazah yang ditemukan pada tanggal 4 Januari. Korban tersebut adalah Fernando Martin Carreras, seorang pelatih tim B wanita Valencia Spanyol, yang telah kehilangan nyawa dalam kecelakaan kapal.
Kepastian identifikasi ini diperoleh melalui kecocokan data ante mortem dan post mortem, seperti jenis kelamin, tinggi badan, serta ciri khusus yang digunakan korban, termasuk tato, cincin, dan jam tangan.
Dalam penyelidikan yang dilakukan tim DVI Biddokkes Polda NTT, berbagai data diperbandingkan secara menyeluruh. Tim ini juga melibatkan pihak keluarga dan kedutaan untuk memastikan keakuratan informasi yang ada.
Proses Identifikasi yang Teliti dan Terstruktur
Tim DVI melakukan identifikasi dengan cermat menggunakan metode ilmiah dan kemanusiaan. Mereka mencocokkan data primer dan sekunder dari hasil pemeriksaan medis forensik.
Kondisi jenazah membuat data primer, seperti sidik jari, sulit digunakan secara optimal. Namun, tim berhasil menemukan kecocokan di banyak data sekunder yang relevan.
Menurut Kabid Humas Polda NTT, Henry Novika Chandra, hasil identifikasi dinyatakan konfirmasi jika ada dua atau lebih data sekunder yang kuat, walaupun data primer terbatas. Ini menunjukkan komitmen tinggi tim terhadap keakuratan identifikasi.
Pencarian dan Penemuan Korban yang Hilang
Sebelumnya, pada tanggal 4 Januari, tim SAR Gabungan menemukan satu jenazah di sekitar selat Padar. Penemuan ini terjadi sekitar pukul 08.47 WITA saat operasi penyisiran dilakukan.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fatur Rahman, mengonfirmasi bahwa jenazah ditemukan 1,13 nautical mile dari titik dugaan tenggelamnya kapal wisata KM. Putri Sakina. Penemuan ini penting dalam melengkapi proses pencarian korban lainnya.
Setelah penemuan jenazah pertama, operasi SAR diperpanjang selama tiga hari untuk mencari dua korban yang masih hilang, yaitu warga negara asing asal Spanyol. Ini memberi harapan baru untuk keluarga yang menunggu kepastian.
Kecelakaan Kapal Wisata yang Mengguncang
Kecelakaan kapal KM. Putri Sakina terjadi pada malam tanggal 26 Desember, saat kapal membawa 11 penumpang, termasuk enam wisatawan asing dan satu pemandu lokal. Perairan Pulau Padar menjadi lokasi tragedi ini.
Tim gabungan secara cepat melakukan evakuasi. Tujuh orang selamat, sementara empat penumpang lainnya dinyatakan hilang, memicu operasi pencarian yang intensif.
Untuk meningkatkan efektivitas pencarian, Polri menggunakan teknologi canggih seperti sonar dan drone bawah air. Ini memungkinkan pemantauan lebih baik terhadap area yang luas dan dalam.
Proses pencarian yang berlangsung selama sepuluh hari ini menunjukkan dedikasi penuh dari tim SAR. Penggunaan berbagai alat dan teknologi menjadi bagian dari strategi yang terorganisir demi menemukan yang hilang.
Walaupun satu jenazah berhasil ditemukan, dua korban lainnya masih dinyatakan hilang. Tim SAR tetap optimis dan berkomitmen untuk terus mencari, demi memberikan kepastian kepada keluarga korban.














