Dalam dunia perhotelan yang selalu berubah, banyak perusahaan berjuang untuk tetap bertahan di tengah berbagai tantangan. Namun, Metland menunjukkan keberanian dengan menambah jumlah hotel meski ada penurunan bisnis saat ini. Mereka percaya, situasi ini hanyalah sementara dan bila ada perubahan kebijakan dari pemerintah, keadaan bisnis perhotelan akan kembali ke jalur yang positif.
Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land Tbk, menekankan bahwa kelesuan yang terjadi saat ini tidak akan mengganggu rencana jangka panjang mereka. Di akhir tahun 2025, diperkirakan penurunan pendapatan di sektor hotel tidak akan terlalu signifikan, di bawah 1 persen.
“Walaupun ada penurunan, kita masih merasa cukup baik karena kontribusi sektor hotel hanya 10 persen dari total pendapatan Metland,” jelas Wahyu. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, mereka masih memiliki kinerja yang stabil dalam bisnis lainnya.
Pemerintah mungkin sedang melakukan penghematan dalam belanja untuk rapat-rapat hotel, tetapi Wahyu percaya hal ini tidak akan terlalu mempengaruhi kinerja hotel Metland. Ada harapan bahwa kunjungan wisatawan akan kembali meningkat dalam waktu dekat.
Penurunan Pendapatan dan Dampaknya pada Bisnis Hotel
Wahyu menjelaskan bahwa penurunan pendapatan di bisnis hotel tidak terlalu mempengaruhi operasi mereka secara keseluruhan. Penurunan pendapatan yang dilaporkan adalah sekitar 0,64 persen, yang menunjukkan bahwa bisnis hotel Metland masih dalam kondisi baik. Mereka tetap optimis bahwa keadaan ini akan segera membaik.
“Kami bisa melihat ada variasi dalam okupansi hotel. Misalnya, ada sedikit peningkatan berkat meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali, yang berimbas positif pada hotel kita,” ungkapnya. Ini menunjukkan bahwa ada faktor eksternal yang tetap mendukung keberlangsungan bisnis perhotelan.
Salah satu contoh nyata adalah Metland Hotel di Kertajati, yang mengalami kenaikan okupansi 20 persen dari tahun sebelumnya. Penambahan kunjungan wisatawan tampaknya menjadi angin segar bagi bisnis hotel yang sempat lesu.
Keberhasilan ini menandakan bahwa pasar mungkin mulai pulih di tahun-tahun mendatang. Metland siap untuk beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang ada demi keberlangsungan usahanya.
Peluang Investasi di Kawasan Rebana dan Dampaknya
Berita baik juga datang dari investasi yang mulai mengalir ke Kawasan Cirebon-Patimban-Kertajati, yang dikenal sebagai Rebana. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pelaksana Badan Pengelola Kawasan Rebana, Helmi Yahya, yang memberikan optimisme pada para pelaku usaha di kawasan tersebut. Investasi ini diharapkan dapat menambah potensi okupansi di hotel-hotel di sekitar kawasan tersebut.
“Tahun depan, ada beberapa tenant baru yang direncanakan akan masuk, dan ini akan berkontribusi pada tingkat okupansi hotel Metland,” kata Wahyu. Dengan bertambahnya fasilitas dan tenant, dipastikan bahwa hotel-hotel di wilayah ini akan semakin diminati.
Salah satu harapan besar yang ada adalah rencana MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) untuk Bandara Kertajati. Jika rencana ini terwujud, akan ada dampak langsung terhadap tingkat okupansi hotel. Adanya fasilitas MRO di bandara tentu sangat menarik bagi para pelancong dan bisnis.
Selain itu, adanya rencana untuk mengaktifkan kembali layanan haji dan umroh di Bandara Kertajati mulai Januari 2026 memberikan tambahan optimisme. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan ke hotel-hotel yang berada di sekitar bandara.
Strategi Metland untuk Menghadapi Tantangan Bisnis Perhotelan
Dalam menghadapi tantangan bisnis yang saat ini sedang berlangsung, Metland tetap berfokus pada strategi yang matang. Mereka diwarisi dengan pengalaman dan pengetahuan dari pelaksanaan bisnis selama bertahun-tahun. Ini membantu mereka dalam merencanakan langkah ke depan meski dalam kondisi pasar yang belum menentu.
Wahyu menambahkan pentingnya beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Untuk itu, Metland tidak hanya berfokus pada jumlah pemesanan hotel, tetapi juga memperhatikan pengalaman pelanggan. Memastikan semua fasilitas dan layanan tetap berstandar tinggi menjadi prioritas utama mereka.
Pelatihan staf menjadi salah satu langkah krusial untuk menghadapi era baru dalam bisnis perhotelan. Metland percaya bahwa karyawan yang terlatih dengan baik akan memberikan dampak positif bagi tingkat kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya akan meningkatkan tingkat okupansi hotel.
Keberadaan teknologi juga diakui sebagai salah satu faktor pendukung yang dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional. Dengan memanfaatkan teknologi, Metland berharap dapat memberikan layanan yang lebih cepat dan tepat kepada pelanggan, sehingga semakin meningkatkan daya tarik hotel.












