Perkembangan teknologi medis yang pesat telah memberikan kontribusi signifikan dalam deteksi dan penanganan penyakit jantung bawaan (PJB), khususnya untuk pasien bayi dan anak-anak. Salah satu metode yang kini banyak diandalkan adalah ekokardiografi, yang berfungsi untuk menilai kondisi jantung secara real-time tanpa risiko paparan radiasi.
Dr. Radityo Prakoso, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, mengungkapkan bahwa ekokardiografi bisa dilakukan bahkan pada bayi yang baru lahir, termasuk dalam periode neonatal. Metode ini memungkinkan para dokter untuk menganalisis struktur dan fungsi jantung secara menyeluruh, memberikan gambaran yang jelas tanpa risiko kesehatan tambahan.
“Ekokardiografi merupakan pendekatan non-invasif dan akurat yang dirancang untuk mendeteksi, mendiagnosis, serta memantau kondisi jantung bayi dan anak secara real-time,” ungkap Radityo. Dengan metode ini, dokter bisa memberikan perawatan yang lebih efektif dan tepat waktu untuk pasien dengan PJB.
Penerapan Ekokardiografi dalam Deteksi Penyakit Jantung Bawaan
Data menunjukkan bahwa kasus PJB telah meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, dengan angka yang melonjak dari 0,6 per 1.000 kelahiran pada 1930 menjadi 9,1 per 1.000 kelahiran pada 2010. Wilayah Asia menjadi salah satu yang mencatatkan jumlah kasus tertinggi.
“Meningkatnya angka kejadian ini mendorong ekokardiografi untuk menjadi standar emas dalam pemantauan dan manajemen penyakit jantung bawaan,” kata Radityo, menekankan pentingnya pemeriksaan awal dan berkelanjutan. Dengan deteksi lebih awal, risiko komplikasi dapat diminimalisir dan langkah perawatan dapat segera diambil.
Seiring dengan perkembangan teknologi, ekokardiografi juga berkembang menjadi 3D, menawarkan gambaran jantung dalam format tiga dimensi. Hal ini memberikan dokter kemampuan untuk memvisualisasikan anatomi jantung dengan lebih detail dari berbagai sudut, membantu diagnosis yang lebih akurat.
Keunggulan Teknologi 3D dalam Ekokardiografi
Dr. Ario Soeryo Kuncoro, seorang pakar di bidang jantung dan pembuluh darah, menjelaskan bahwa 3D ekokardiografi sangat penting untuk mengevaluasi kondisi jantung dengan struktur yang kompleks, khususnya pada pasien yang menderita PJB. Metode ini memfasilitasi evaluasi pada morfologi ventrikel yang rumit dan memungkinkan pemeriksaan volume serta fungsi ventrikel yang lebih baik.
“Teknologi ini juga memungkinkan penilaian anatomi dan fungsi katup jantung secara lebih terperinci, memberikan gambaran yang lebih jelas bagi dokter untuk mengambil keputusan yang tepat dalam perawatan,” ungkap Ario. Ini tentunya bermanfaat saat melakukan tindakan medis seperti intervensi transkateter, di mana presisi sangat diperlukan.
Meskipun teknologi ini canggih, penting bagi tenaga medis untuk terus belajar dan mengasah keterampilan mereka dalam penggunaan teknologi imaging kardiovaskular. Dalam rangka meningkatkan kapasitas ini, kegiatan workshop dan pelatihan dianggap sangat penting.
Pentingnya Pelatihan Berkelanjutan bagi Tenaga Medis
Mini Workshop CARES 2026 yang diadakan oleh Heartology Cardiovascular Hospital menjadi salah satu contoh upaya untuk meningkatkan pengetahuan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Kegiatan ini dihadiri oleh 30 dokter yang memiliki fokus pada ekokardiografi dan kardiologi pediatrik, sebuah langkah positif untuk meningkatkan keterampilan mereka.
Profesor Luigi Badano, salah satu pembicara dalam acara tersebut, menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan untuk tenaga medis. “Saya gembira bisa menghadiri Mini Workshop CARES 2026. Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti semua sesi, termasuk diskusi interaktif,” jelas Badano.
Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan dokter dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan lebih baik, sehingga pelaksanaan pemeriksaan ekokardiografi dapat semakin optimal dalam mendeteksi dan menangani PJB, terutama pada pasien anak.












