Perkembangan teknologi saat ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Transformasi digital membuka banyak peluang namun juga membawa sejumlah tantangan yang harus dihadapi masyarakat, terutama generasi muda.
Di Indonesia, pengguna internet yang terus meningkat menunjukkan betapa pentingnya keberadaan platform digital dalam interaksi sosial. Namun, pertumbuhan ini tidak sejalan dengan pemahaman yang memadai tentang risiko yang mungkin timbul dari penggunaan intensif teknologi.
Psikolog dan ahli keluarga menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menghadapi pergeseran ini. Kesadaran akan dampak digital pada perkembangan anak perlu ditingkatkan di semua lini untuk meminimalisir efek negatif.
Pentingnya Pemahaman Digital di Keluarga dan Masyarakat
Sebagai basis utama perkembangan individu, keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk karakter dan kesehatan mental anak-anak. Pemahaman yang kurang tentang teknologi dapat menyebabkan berbagai tantangan yang dihadapi anak di dunia maya.
Penggunaan gadget yang tidak terkelola dengan baik dapat berpotensi merusak pola pikir anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk aktif terlibat dalam kegiatan digital anak-anak mereka.
Aksi kolaboratif antara orang tua dan anak dapat menciptakan ruang aman bagi anak untuk belajar dan bereksplorasi secara digital. Mengajak mereka berdiskusi tentang apa yang mereka alami di dunia maya sangatlah penting.
Tantangan-Tantangan di Era Digital
Di era digital ini, terdapat beberapa tantangan yang dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan emosional anak. Salah satunya adalah perubahan dalam cara berpikir anak yang terpapar konten beragam dari internet.
Sosialisasi di dunia maya dapat memengaruhi dinamika emosional mereka, baik positif maupun negatif. Melalui interaksi tersebut, anak-anak dapat membentuk identitas diri mereka, namun juga berpotensi terpapar konten yang tidak sehat.
Risiko online lainnya mencakup perundungan siber dan akses kepada konten yang tidak sesuai. Jika tidak dihadapi dengan bijak, hal ini dapat mengganggu kesehatan mental anak dan dampak jangka panjang terhadap karakter mereka.
Transformasi Pola Pengasuhan Menuju Kolaborasi
Untuk menghadapi tantangan ini, pola pengasuhan perlu diperbarui agar lebih kolaboratif. Beralih dari pendekatan kontrol yang kaku ke pendekatan yang lebih terbuka dan dialogis menjadi sangat penting.
Pentingnya peran ayah dalam digital parenting harus diperkuat, sehingga hubungan antar anggota keluarga dapat lebih seimbang. Ayah dapat menjadi panutan dan penyedia pemahaman yang mumpuni tentang dunia digital.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, bersama dengan berbagai lembaga, telah merancang program-program yang mendukung pengasuhan berbasis siklus kehidupan. Dengan pendekatan ini, diharapkan keluarga mampu beradaptasi dan mengembangkan cara berpikir positif terhadap teknologi.














