Film animasi terbaru yang berjudul Papa Zola The Movie karya sutradara Nizam Razak, dijadwalkan tayang perdana di bioskop Indonesia pada 23 Januari 2026. Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai film animasi biasa, tapi juga menarik perhatian banyak orang karena kisahnya yang menarik dan humoris.
Dalam proses kreatifnya, Nizam Razak tidak hanya berperan sebagai sutradara, tetapi juga terlibat sebagai penulis skenario dan pengisi suara untuk karakter utama, yakni Papa Zola. Hal ini menunjukkan dedikasi dan komitmennya untuk menghadirkan sesuatu yang istimewa kepada para penonton.
Sejarah penciptaan karakter Papa Zola bermula ketika Nizam merasa ada kebutuhan untuk menghubungkan dunia animasi dengan penonton dewasa. Hal ini terlihat dari hasil riset yang menunjukkan bahwa 70 persen penonton BoBoiBoy adalah orang dewasa. Oleh karena itu, penciptaan karakter baru merasa tepat untuk mengisi celah ini.
Munculnya Karakter Papa Zola dalam Dunia Animasi
Berdasarkan penelitian dan observasi yang mendalam, para kreator akhirnya merintis karakter baru yang lebih relevan dengan audiens dewasa. Papa Zola pun lahir sebagai simbol dari keinginan untuk menghubungkan dunia permainan dan animasi dengan realita yang lebih dewasa. Ia diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara apa yang disajikan dalam animasi dan pengalaman sehari-hari penonton.
Proses pencarian pengisi suara untuk karakter Papa Zola ternyata tidak mudah. Tim kreator awalnya mengalami kebuntuan dalam menemukan suara yang cocok. Namun, Nizam Razak akhirnya memutuskan untuk mengisi suara karakter tersebut sendiri, dan hasilnya ternyata melampaui ekspektasi mereka. Suara yang dihadirkannya mampu memberikan karakterisasi yang kuat dan menyentuh.
Sejak awal kemunculannya, Papa Zola dengan cepat menarik perhatian banyak orang. Berawal dari format short series yang tayang di social media, konten-konten yang dihadirkannya seringkali menjadi viral. Dengan jumlah penonton mencapai ratusan juta untuk setiap konten, popularitas karakter ini meningkat pesat, menjadikannya lebih dari sekedar karakter animasi.
Kesuksesan yang Diteruskan ke Layar Lebar
Dari media sosial, Papa Zola akhirnya melangkah ke dunia film layar lebar dengan membawa cerita yang lebih kaya. Film ini berencana tayang perdana pada bulan Desember 2025, dan disambut dengan antusiasme tinggi di kalangan penggemar. Para penonton ingin melihat lebih jauh petualangan dan karakter khas yang telah mereka kenal dari platform digital.
Antusiasme ini bukan tanpa alasan, karena karakter Papa Zola telah teruji dalam menarik perhatian audiens muda serta dewasa. Banyak orang mencintai humor dan pendekatan yang disajikan, yang mengundang tawaan serta kepuasan tersendiri dari penonton. Hal ini membuka peluang baru untuk eksplorasi cerita yang lebih dalam di film tersebut.
Dalam mengembangkan Papa Zola The Movie, Nizam Razak ingin memastikan bahwa elemen cerita tetap terjaga sambil tetap menyajikan tawa dan keceriaan. Kombinasi antara cerita yang menyentuh dan animasi yang menarik diharapkan dapat memberikan pengalaman sinematik yang berkesan bagi semua penonton.
Pesan Moral dan Kegiatan Sosial dalam Film
Selain hiburan semata, film ini juga mengandung pesan moral yang kuat. Melalui cerita yang dihadirkan, Nizam Razak berusaha menyampaikan nilai-nilai positif kepada penonton. Hal ini penting, terutama bagi anak-anak yang menjadi bagian dari audiens mudanya. Dengan begitu, film ini dapat memiliki kontribusi yang lebih daripada sekadar hiburan.
Film ini juga berkolaborasi dengan berbagai organisasi sosial, menciptakan program-program yang terhubung dengan isi cerita. Salah satu contohnya adalah mengadakan acara nonton bareng untuk anak-anak yang kurang beruntung. Inisiatif ini menunjukkan bahwa Papa Zola bukan sekadar karakter, tetapi juga simbol harapan dan keceriaan bagi banyak orang.
Kegiatan sosial ini diharapkan dapat memupuk rasa kepedulian dan solidaritas di antara penonton, membuat mereka lebih terlibat tidak hanya dalam menikmati film, tetapi juga berkontribusi dalam masyarakat. Pengalaman seperti ini membuat film ini lebih dari sekadar hiburan reguler, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan.














