PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) baru saja merilis laporan yang menunjukkan pertumbuhan signifikan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada tahun 2025. Dengan pencapaian sebesar Rp 2.105,8 triliun, DPK mengalami peningkatan sebesar 23,9% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan kekuatan dan stabilitas finansial bank ini.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini juga didorong oleh penguatan ekosistem layanan keuangan yang lebih terintegrasi. Hasil ini menunjukkan betapa pentingnya sinergi antara kanal digital dan transaksi nasabah dalam meningkatkan basis pendanaan bank.
Struktur pendanaan bank juga terjaga dengan baik, di mana dana murah atau CASA tumbuh sebesar 12,6% menjadi Rp 1.431,4 triliun. Hal ini memastikan likuiditas Bank Mandiri tetap memadai dalam mendukung ekspansi bisnis yang berkelanjutan.
Pembiayaan kredit juga menunjukkan tren positif, dengan peningkatan sebesar 13,4% mencapai Rp 1.895,0 triliun. Pertumbuhan yang merata di seluruh segmen bisnis mencerminkan kontribusi Bank Mandiri terhadap perekonomian nasional, terutama dalam menciptakan lapangan kerja.
Kredit untuk segmen UMKM khususnya menunjukkan pertumbuhan yang kuat, meskipun ada pelambatan dalam sektor industri. Bank Mandiri komit untuk mendukung lebih dari 1,3 juta pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Menggali Lebih Dalam Tentang Pertumbuhan DPK di Bank Mandiri
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga adalah indikator penting bagi kesehatan keuangan suatu bank. Dengan pencapaian Rp 2.105,8 triliun, Bank Mandiri tidak hanya menunjukkan kinerja yang baik, tetapi juga kepercayaan publik terhadap lembaga keuangannya.
Dalam laporan tersebut, Riduan menekankan bahwa pertumbuhan DPK diiringi oleh strategi cermat dalam menghimpun dana. Sinergi antara layanan digital dan interaksi dengan nasabah mempermudah proses penghimpunan dana, menjadikannya lebih efisien.
Bank Mandiri menemukan bahwa dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk-produk keuangan berbasis digital, dana murah dapat lebih cepat terakumulasi. Ini merupakan langkah strategis yang mendukung kestabilan finansial jangka panjang bank.
Selama tahun 2025, fitur dan layanan baru yang diperkenalkan oleh bank berkontribusi signifikan terhadap peningkatan DPK. Hal ini membuktikan bahwa inovasi menjadi elemen kunci dalam meraih kepercayaan nasabah.
Dari sisi makroekonomi, pertumbuhan DPK ini berimplikasi positif bagi perekonomian nasional. Ketersediaan dana yang cukup memungkinkan bank untuk memberikan pembiayaan yang lebih besar kepada sektor-sektor strategis.
Peningkatan Kredit Menjadi Sorotan Utama
Pada tahun 2025, penyaluran kredit Bank Mandiri meningkat secara signifikan, mencapai Rp 1.895,0 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan berbagai program yang mendukung pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Setiap segmen bisnis menunjukkan pertumbuhan yang merata, mencerminkan keberhasilan strategi diversifikasi pembiayaan bank. Fokus pada sektor-sektor produktif menjadi prioritas, sehingga dampak positif terhadap perekonomian dapat lebih luas dirasakan.
Bank Mandiri juga menekankan pentingnya peran UMKM dalam ekosistem perekonomian. Kredit untuk UMKM tumbuh hingga 4,88% meskipun kondisi pasar tampak menantang, menandakan dukungan yang konsisten dari bank kepada pelaku UMKM.
Peningkatan ini juga mencerminkan perubahan perilaku konsumsi dan investasi masyarakat. Dengan akses yang lebih baik menuju pembiayaan, sektor riil dapat lebih maksimal dalam beroperasi.
Selain itu, kredit modal kerja yang terdistribusi juga berkontribusi signifikan bagi sektor usaha. Inisiatif ini menunjukkan komitmen bank dalam memberdayakan ekonomi lokal.
Kualitas Aset dan Kinerja Profitabilitas yang Optimal
Kualitas aset Bank Mandiri tetap terjaga dengan baik selama tahun 2025. Penerapan manajemen risiko yang disiplin memungkinkan bank untuk menjalankan operasi yang sehat dan berkelanjutan.
Rasio Non-Performing Loan (NPL) di akhir tahun tercatat sebesar 0,96%. Angka ini menunjukkan bahwa bank mampu menjaga kualitas kredit meskipun terdapat tantangan dalam perekonomian global.
Sebagai indikator keberhasilan, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik mencapai Rp 56,3 triliun. Kinerja ini didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang solid, mencapai Rp 106 triliun.
Strategi pengelolaan aset yang produktif serta struktur pendanaan yang solid menjadi pilar keberhasilan kinerja profitabilitas bank. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa bank tetap mampu bersaing di pasar yang dinamis.
Melalui inovasi dan pengembangan produk, Bank Mandiri berupaya terus meningkatkan kinerja dan pelayanan, menjadikannya sebagai lembaga keuangan tepercaya bagi masyarakat.














